Pendahuluan
Rabies merupakan salah satu penyakit menular bersumber binatang yang namanya mungkin tidak sepopuler demam berdarah atau malaria. Namun pada awal tahun 2011 rabies telah menyita perhatian pemerintah Indonesia karena telah terjadi banyak kasus dan menelan korban jiwa. Tepatnya pada 1 Februari 2011 telah ditetapkan 3 daerah sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies yaitu Bali (119 kasus), Nias (26 kasus), dan Pulau lara Maluku Tenggara Barat (20 kasus). Sepanjang tahun 2010 secara nasional telah terjadi 74.858 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), 195 diantaranya berakhir pada kematian.
Menurut Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, hingga saat ini 5 provinsi bebas historis rabies yaitu Papua, Papua Barat, NTB, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung dan 24 provinsi di Indonesia masih belum bebas rabies. Mengingat hal tersebut maka perlu langkah-langkah penanganan secara khusus terlebih lagi dalam rangka menuju Indonesia bebas rabies 2020.
Etimologi
Rabies berasal dari bahasa latin “rabere” yang mempunyai arti marah atau dengan kata lain mempunyai sifat pemarah. Kemungkinan juga berasal dari bahasa Sansekerta kuno rabhas yang artinya melakukan kekerasan/kejahatan. Dalam bahasa Yunani, rabies disebut Lyssa atau Lytaa yang artinya kegilaan. Dalam bahasa Indonesia rabies sering juga disebut dengan anjing gila.
Penyebab
Rabies disebabkan oleh virus rabies yang masuk ke keluarga Rhabdoviridae dan genus Lysavirus. Karakteristik utama virus keluarga Rhabdoviridae adalah hanya memiliki satu utas negatif RNA yang tidak bersegmen.
Gambar. Struktur virus rabies (irisan memanjang dan melintang)
Vektor untuk penularan rabies antara lain kelelawar, monyet, rakun, serigala, rubah, skunks, dan hewan-hewan ternak ; anjing dan kucing merupakan penular terbesar. Rodensia seperti tikus dan tupai jarang terinfeksi. Virus ini akan ditularkan ke hewan lain atau ke manusia terutama melalui :
- Luka gigitan
- Jilatan pada luka / kulit yang tidak utuh
- Jilatan pada selaput mukosa yang utuh
- Menghirup udara yang tercemar virus rabies ( meskipun sangat jarang terjadi namun telah dilaporkan 2 kasus yang menimpa penjelajah yang menghirup udara di dalam goa yang terdapat banyak kelelawar ).
Penularan antar manusia sangat jarang terjadi.
Masa Inkubasi dan Gejala Klinis
Masa inkubasi adalah waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala penyakit . Masa inkubasi penyakit rabies pada anjing dan kucing kurang lebih 2 minggu (10 hari – 14 hari). Pada manusia 2-3 minggu dan paling lama 1 tahun.
Setelah infeksi, virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke sumsum tulang belakang dan otak dan bereplikasi di sana. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke jaringan non saraf, misalnya kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas/ ganas ataupun rabies jinak/ tenang. Pada rabies buas/ ganas, hewan yang terinfeksi tampak galak, agresif, menggigit dan menelan segala macam barang, air liur terus menetes, meraung-raung gelisah kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak/tenang, hewan yang terinfeksi mengalami kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total, suka bersembunyi di tempat gelap, mengalami kejang dan sulit bernapas, serta menunjukkan kegalakan.
Gejala Rabies Pada Manusia :
- Diawali dengan demam ringan atau sedang, sakit kepala, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, mual, muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar gigitan (rasa panas, nyeri berdenyut)
- Rasa takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara
- Air liur dan air mata keluar berlebihan
- Pupil mata membesar
- Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan
- Selanjutnya ditandai dengan kejang-kejang
Penanganan
Bila terinfeksi rabies, segera cari pertolongan medis. Rabies dapat diobati, namun harus dilakukan sedini mungkin sebelum menginfeksi otak dan menimbulkan gejala. Bila gejala mulai terlihat, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini. Kematian biasanya terjadi beberapa hari setelah terjadinya gejala pertama.
Jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang diduga terinfeksi rabies atau berpotensi rabies (anjing, sigung, rakun, rubah, kelelawar) segera cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit lalu beri antiseptik alkohol 70% atau betadin. Orang-orang yang belum diimunisasi selama 10 tahun terakhir akan diberikan suntikan tetanus. Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies akan diberikan suntikan globulin imun rabies yang dikombinasikan dengan vaksin. Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, biasanya di daerah pinggang. Dalam periode 28 hari diberikan 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus rabies akibat bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Kadang-kadang terjadi rasa sakit, kemerahan, bengkak, atau gatal pada tempat penyuntikan vaksin.
Pencegahan
Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah terkena gigitan. Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu:
- Dokter hewan.
- Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi.
- Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies pada anjing banyak ditemukan
- Para penjelajah gua kelelawar.
Vaksinasi idealnya dapat memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi seiring berjalannya waktu kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap rabies harus mendapatkan dosis booster vaksinasi setiap 3 tahun. Pentingnya vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing juga merupakan salah satu cara pencegahan yang harus diperhatikan.
Upaya pengendalian rabies telah dilaksanakan oleh dua sektor yang bertanggungjawab yaitu sektor Peternakan untuk penanganan pada hewan penular dan pengawasan lalu lintasnya, serta sektor Kesehatan untuk penanganan kasus gigitan pada manusia dan penderita rabies (lyssa). Kedua sektor tersebut bekerjasama dibawah koordinasi Departemen Dalam Negeri dalam wadah Tim Koordinasi (TIKOR) Rabies.
Pada tahun 2010 pengendalian rabies di Indonesia antara lain penyediaan Vaksin Anti Rabies (VAR), pelatihan bagi para petugas kesehatan di 24 Provinsi, pembuatan buku pedoman dan media penyuluhan rabies , Workshop serta Advokasi. Disamping itu upaya yang telah dilakukan di Bali yaitu membentuk Rabies Center (43 buah), pelatihan bagi petugas kesehatan (Puskesmas & Rumah Sakit) di seluruh Kab/Kota di Bali (9 Kab/Kota), penyediaan VAR manusia yaitu Pusat dan WHO sebanyak 6.861 kuur (27.484 vials), Provinsi sebanyak 19.469 kuur (77.876 vials), Kab/Kota sebanyak 11.627,5 kuur (46.510 vials). Selain itu, workshop dan pertemuan TIKOR Pengendalian Rabies, meningkatkan capacity building petugas dengan mengikuti pelatihan-pelatihan di luar negeri, serta pembuatan buku pedoman dan media penyuluhan rabies.
Tindakan pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan mengeliminasi anjing liar yang dapat menjadi vektor utama dalam menyebarkan virus rabies. Hal yang sangat penting dilakukan juga adalah penyadaran kepada masyarakat melalui penyuluhan atau sosialisasi tentang rabies, sehingga masyarakat memiliki kesadaran akan bahaya penyakit rabies serta ikut bertanggungjawab dalam membantu pengawasan pencegahan. Bagi masyarakat peran serta secara aktif sangat diharapkan terutama orang yang mempunyai sejarah pernah digigit anjing agar melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang memadai.
Sumber :
Rabies http://id.wikipedia.org/wiki/Rabies (18 Juni 2011)
Penyakit Rabies Serta Penatalaksanaannya http://nursingbegin.com/penyakit-rabies-serta-penatalaksanaannya/
Tiga Daerah Ditetapkan KLB Rabies Selasa, 01/02/2011, 15:49 WIB http://www.berita8.com/read/2011/02/01/4/37825/Tiga-Daerah-Ditetapkan-KLB-Rabies
BALI, NIAS DAN MALUKU TENGGARA BARAT TERJADI KLB RABIES http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1401-bali-nias-dan-maluku-tenggara-barat-terjadi-klb-rabies.html
HARI RABIES SEDUNIA 2010 DIPERINGATI DI BADUNG
http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=19&menuType=1&SubID=2&DetId=822
BALI, NIAS DAN MALUKU TENGGARA BARAT TERJADI KLB RABIES
http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=19&menuType=1&SubID=2&DetId=892
http://www.distannak.lomboktimurkab.go.id/?pilih=articles&mod=yes&aksi=lihat&id=16